(JL. MATRAMAN DALAM 3 NO. 7, PEGANGSAAN, MENTENG, JAKARTA PUSAT) E-MAIL: mr.rujito@gmail.com HP. 021 - 3282 6031 / 0852 8748 3184 WEBSITE : www.jasa-penterjemah.com

Jumat, 23 Maret 2012

MAKALAH TEKNIK LISTRIK ALAT "TESTER"


MAKALAH TEKNIK LISTRIK
TESTER

A.   PENDAHULUAN
       Sirkuit tester adalah alat pengetes kelistrikan. Penggunaannya sangat luas sekali untuk mengukur tegangan arus DC dan AC, tahanan dan untuk memeriksa hubungan kelistrikan dari suatu komponen.
       Ada beberapa jenis sirkuit tester. Tester model digital dapat menunjukkan hasil pengukurannya langsung dengan angka-angka, sedangkan tester yang biasa ditunjukkan oleh sebuah jarum.

























1.    Ammeter
       Dasar rangkaian ammeter adalah seperti terlihat di bawah. Dalam rangkaian ammeter, lilitan yang dapat bergerak dihubungkan paralel dengan tahanan R1. Karena tahanan resistor ini jauh lebih rendah dari tahanan lilitan, maka hampir seluruh arus dari rangkaian yang diukur arusnya mengalir ke resistor dan hanya sedikit yang menglir ke lilitan.

       Karena amper dari arus yang mengalir melalui lilitan berbanding lurus dengan amper dari arus yang diukur, maka gerakan pointer juga berbanding lurus dengan ampere yang diukur. Garis skala yang menunjukkan amper karena berjarak sama disepanjang keliling lingkaran.

       Pada voltmeter, ukuran (skala) unit yang diukur ampernya dapat dirubah dengan cara mengganti tahanan R1.















2.    Voltmeter
       Dasar rangkaian di dalam voltmeter adalah seperti terlihat pada diagram di bawah. Lilitan yang dapat bergeser dirangkai seri dengan resistor R2. Tahanan resistor ini sangat besar untuk menjamin bahwa arus yang mengalir ke voltmeter akan lemah.
       Karena amper dari arus ini berbeda-beda dan berbanding lurus dengan tegangan arus di dalam rangkaian yang diukur, gerakan pointer juga akan berbanding lurus dengan tegangan ini. Skala menunjukkan teganan yang jarak garisnya sama di sekeliling lingkaran. Kebanyakan di dalam voltmeter, ada beberapa resistor dengan tahanan yang berlainan dan ukuran satuan yang diukur tegangannya ( x 10, x 50 dan lain-lain). Dapat diubah-ubah dengan mengganti tahanan R­2.














       Untuk mengurangi ampernya sebanyak mungkin dari arus yang mengalir melalui rangkaian di dalam voltmeter, dipasang satu resistor yang bertahanan beberapa ratus ribu ohm. Pada rangkaian listrik biasa (non elektronik) resistor ini tidak banyak berpengaruh terhadap pembacaan meter bila arus pada rangkaian yang diukur besar. Akan tetapi, bila arusnya sangat kecil, seperti yang sering terdapat pada rangkaian elektronik, resistor pada voltmeter akan mempengaruhi hasil bacaan meter.

       Sebagai contoh, bila tegangan dari rangkaian berikut diukur dengan voltmeter yang mempunyai resistor 20 W, akan dapat dipastikan bahwa penurunan tegangan antara (a) dengan (b) dalam rangkaian “A” akan sama seperti antara (a1) dan (b1) dalam rangkaian “B” yang besarnya 6V.













       Akan tetapi, bila kita benar-benar mencoba mengukur penurunan tegangan ini dengan voltmeter yang resistor 20 kW, akan kita peroleh bahwa penurunan tegangan pada rangkaian “A” adalah sekitar 6V. Sedangkan pada rangkaian “B” hanya 2V. Harga yang kedua adalah tidak benar. Ini disebabkan pada hal yang kedua, dengan menghubungkan volt-meter dengan rangkaian tersebut akan menghubungkan resistor di dalam voltmeter secara paralel dengan tahanan 80 kW di dalam rangkaian dan menurunkan banyak tahanan (a1) dan (b1)









      


       Untuk alasan tersebut maka voltmeter dengan beberapa MW resistansi merah digunakan pada saat mengukur tegangan pada rangkaian elektronik.

3.    Menentukan Tahanan Di Dalam Voltmeter
       Dial pada voltmeter biasanya diberi label dengan tanda 20 kW/V DC, 8 kW/V AC, dll. Dari sini dapat diketahui tahanan pada voltmeter dalam ohm. Untuk mengetahui tahanan di dalam voltmeter dengan tingkat tertentu, kalikan harga W/V misalnya 20 k) dengan skala baca penuh untuk tingkat tersebut (misalnya 25 untuk tingkat DC 25 V). Dalam hal ini tahanan di dalam untuk tingkat 25 V menjadi 20 k x 25 = 500 k = 500 kW.
       Dengan demikian berarti tahanan di dalam voltmeter pada beberapa voltmeter bervariasi tergantung pada pemilihan skalanya.
       Catat bahwa pada voltmeter yang hanya mempunyai satu tingkat, figur W/V (misalnya 10 kW/V) yang diberikan pada dial akan merupakan ukuran total dari tahanan di dalam voltmeter (dalam contoh ini berarti 20 kW/V).

4.    Ohmmeter
       Dasar rangkaian ohmmeter adalah seperti terlihat di bawah. Tahanan variabel R3, dihubungkan seri dengan lilitan yang dapat bergerak, sedangkan resistor biasa R4, dihubungkan paralel dengan lilitan. Arus mengalir dari baterai dan masuk ke ohmmeter melalui resistor yang diukur (R5), dan kembali melalui ohmmeter, mengakibatkan pointer bergerak.
       Karena tahanan R4, sangat kecil, maka sebagian besar arus akan mengalir melaluinya, dan oleh karena itu hanya sedikit arus yang melalui lilitan.
       Karena amper dari arus ini bervariasi tidak berbanding lurus dengan R5 (tahanan yang diukur), maka skala penunjukan meter tidak dibagi rata tetapi akan semakin kecil bila tahanannya makin besar.

       Juga apabila tahanan R5 diperbesar, arus yang mengalir melalui lilitan dengan sendirinya menurun. Inilah sebabnya titik nol dari ohmmeter berlawanan dengan voltmeter dan ammeter.
       Unit yang tahanannya diukur dapat diubah-ubah dengan merubah tahanan dari resistor variabel (R4).










       Dengan pemakaian yang lama, baterai dalam ohmmeter akan menjadi lemah disebabkan penggunaan yang lama. Bila hal ini terjadi, maka bacaan meter akan menjadi tidak tepat. Oleh karena itu maka ohmmeter harus dikalibrasi sebelum dipergunakan.
       Pekerjaan ini dilakukan dengan saling menghubungkan kedua probe dan menyetel calibrating switch (R3) sampai pointer menunjuk 0 W.


















B.   PRINSIP DASAR
1.    Bila arus mengalir dalam suatu penghantar (conductor), medan magnet akan bangkit pada arah yang terlihat pada ilustrasi di bawah sesuai kaidah Ampere dari ulir kanan.









2.    Bila penghantar ditempatkan diantara kutub N dan S dari sebuah magnet permanen, maka garis gaya magnet y ang terjadi oleh arus listrik dalam penghantar dan garis gaya magnet dari magnet permanen saling berpotongan menyebabkan magnetic flux bertambah di bagian bawah penghantar dan berkurang di bagian atas penghantar.

       Kita dapat menganggap bahwa magnetic flux adalah sebagai sabuk karet yang telah ditegangkan. Jadi magnetic flux, maka gaya akan cenderung menarik pada satu garis lurus lebih kuat di bagian bawah penghantar.

       Akibatnya dari hal ini bahwa penghantar akan memperoleh gaya yang cenderung mendorongnya ke atas (kaidah tangan kiri Fleming).














       Sebuah lilitan kawat yang diletakkan diantara kutub magnet permanen akan mulai berputar bila diberi arus. Hal ini disebabkan arus mengalir dengan arah yang berlawanan pada masing-masing lilitan, jadi gaya yang saling memotong dari lilitan dengan dari magnet itu sendiri.
       Akibatnya lilitan kawat akan berputar searah dengan jarum jam.




C.   KONSTRUKSI SIRKUIT TESTER
Pada dasarnya, sirkuit tester adalah suatu bnetuk lilitan yang dapat bergeser yang diberi pointer. Lilitan yang dapat bergerak ini ditempatkan diantara dua kutub magnet permanen. Bila arus listrik mengalir pada lilitan, maka inti besi di dalamnya akan menjadi magnet dan terbentuklah medan magnet, kekuatannya sebanding dengan kekuatan arus (ampere).
Medan magnet lilitan dan magnet permanen akan tolak-menolak satu sama lain sehingga lilitan akan bergerak sampai tolak-menolak seimbang dengan kekuatan pegas. Besarnya gerakan lilitan adalah sesuai dengan kuat arus yang dialirkan ke lilitan.
Pointer indikator dipasang pada poros lilitan, besarnya gerakan jarum merupakan besarnya hasil ukur.
Meskipun ini merupakan bentuk dari voltmeter, ammeter dan ohmmeter, rangkaian internal dari masing-masing tipe meter berbeda dengan tergantung pada tipe dan penggunaannya.













D.   SKEMA

–     Tahap Detector Transduser
       Kumparan Movable Coil

–     Tahap Antara
       Permanent Magnet

–     Tahap Akhir
       Pointer, Skala






 
















E.   CARA PEMAKAIAN

1.    Metode Pengukuran

       Pemeriksaan dan Penyetelan Skala Nol (0)
       Sebelum menggunakan sirkuit tester anda harus pastikan bahwa jarum penunjuk ada di bagian garis ujung sebelah kiri pada skala.
       Apabila tidak, putarkan skrup penyetel jarum penunjuk dengan sebuah obeng sampai jarum penunjuk tersebut berada tepat pada garis ujung sebelah kiri.
       Sekali anda telah melakukan penyetelan dan pengecekan skala nol (0), anda tidak memerlukan pengecekan yang terlalu sering.









2.    Mengukur Tegangan DC
       Daerah pengukuran tegangan adalah dari 0 – 500 Volt. Hubungkan kabel pengetesan (test lead) warna merah ke terminal positif dan kabel pengetes yang berwarna hitam ke terminal negatif tester. Posisikan elektor pada salah satu daerah DCV (VDC) dengan pilihan (2.5, 10, 25, 50 dan 500). Nomor-nomor berikut ini berkaitan dengan daerah volt.

Range
Voltage yang dapat diukur (V)
2.5
0 ~ 2.5
10
25 ~ 10
25
10 ~ 25
50
25 ~ 50
500
50 ~ 500

       Setel-lah penyetelannya pada salah satu nomor, anda dapat membaca hasil pengukuran dengan mudah sekali. Kemudian hubungkan kabel pengetes yang berwarna merah ke terminal positif dari sumber arus dan ujung satunya ke terminal positif dari multi tester dan kabel pengetes berwarna hitam yang dari terminal negatif dari multi tester dihubungkan ke terminal negatif dari sumber arus dengan kata lain hubungan alat ini adalah paralel dalam pemeriksaan ini. selanjutnya bacalah tegangan pada skala DC.

       Contoh
       Daerah yang dipilih atau yang disetel pada 25 DC volt, jarum penunjuk akan terbaca 12 volt DC.




















3.    Mengukur Tegangan AC
       Daerah tegangan yang dapat diukur adalah dari 0 – 1000 Volt, hubungkan kabel-kabel pengukur tester dan setel selektor pada salah satu posisi AC.V seperti tabel di bawah ini.
Range
Tingkat tegangan yang dapat diukur (V)
10
0 ~ 10
25
10 ~ 25
250
25 ~ 250
1000
250 ~ 1000

       Kemudian, hubungkan kabel pengukur (test lead) secara paralel pada bagian yang akan diperiksa dan bacalah skala V AC (AC V) yang ditunjukkan oleh jarum penunjuk.

4.    Mengukur Arus DC
       Daerah arus yang dapat diukur adalah dari 0 – 20A.

       Mengukur arus DC dari 0 – 250 A
       Hubungkan kabel pengetes (test lead) pada terminal tester (kabel pengetes yang berwarna merah dihubungkan ke positif dan kabel pengukur yang berwarna hitam ke terminal negatif) dan setel selektor ke 250mA A DC (DC A). Kemudian, putuskan arus listrik pada titik tertentu saat anda mengukur arus listrik.
       Hubungkan kabel pengukur yang berwarna merah (dari terminal positif tester) ke terminal positif sumber arus, dan kabel pengukur yang berwarna hitam (dari terminal positif tester) ke terminal negatif sumber arus. Dengan kata lain, tester dihubungkan dalam bentuk seri ke sumber arus dan beban, dan baca skalanya DC A (A DC) ditunjukkan oleh jarum penunjuk.

       Contoh :
       Nilai pengukuran adalah 30mA, sebab selektor diset pada 250mA.



















5.    Mengukur Tahanan
       Kalibrasi
       Sebelum anda mengukur tahanan, pertama anda harus memutar tombol kalibrasi ohm, dengan ujung alat pengukur dibuat berhubungan singkat sampai pembacaan jarum penunjuk 0 pada skala ohm. Kalibrasi ini diperlukan setiap kali anda merubah range.

       Pengukuran
       Setel selektor pada salah satu posisi ohm. Ada beberapa skala untuk mengukur tahanan. Posisi “K” untuk 1000, dengan demikian 10 K berarti 10.000 dan sebagainya.    
Range
Tingkat tahanan yang dapat diukur (W)
X1
0 ~ 1 K
X10
0 ~ 10 K
X100
0 ~ 100 K
X1 K
0 ~ ¥

       Setiap kali anda mengeset range (tingkat), anda harus mengkalibrasi jarum penunjuk (pointer). Lepaskan hubungan dengan beban yang akan diukur, kemudian hubungkan kedua ujung kabel pengetesan (test lead) pada beban. Ini berarti kedua terminal dapat berhubungan pada ujung beban.

v  Bacalah skala berikut :





v  Baca nilai yang ditunjukkan langsung bila pada range X1
v  Kalikan hasilnya dengan 10 bila rangenya X10.
v  Kalikan hasilnya dengan 100 bila rangenya X100.
v  Kalikan hasilnya dengan 1000 bila rangenya X1k.

6.    Pengetesan Hubungan
       Untuk memeriksa hubungan kelistrikan, setellah range selector pada Wx1 dan kalibrasi skalanya.
       Kemudian hubungkan kabel pengetesan pada komponen. Hubungannya normal bila jarumnya menunjuk ke kiri selalu.
v  Pengukuran tahanan dan pengecekan hubungan dapat dilakukan hanya setelah seluruh hubungan komponen dilepaskan dari arus kelistrikan. Bila tidak, kemungkinan tegangan akan mengalir ke tester dan dapat membakar tahanan koil yang ada di dalam (internal coil resistance).
v  Jangan memindahkan saklar selektor ke posisi lain tanpa terlebih dahulu melepaskan kabel-kabel pengetes (test lead) dari komponen yang diperiksa. Hal ini dapat merusak tester.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar