(JL. MATRAMAN DALAM 3 NO. 7, PEGANGSAAN, MENTENG, JAKARTA PUSAT) E-MAIL: mr.rujito@gmail.com HP. 021 - 3282 6031 / 0852 8748 3184 WEBSITE : www.jasa-penterjemah.com

Jumat, 23 Maret 2012

PENGARUH HARGA BBM TERHADAP DAYA BELI MASYARAKAT


BAB  I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Hal yang melatarbelakangi saya dalam pembuatan makalah ini adalah untuk memenuihi salah satu tugas karya tulis Antropologi. Karena banyaknya reaksi masyarakat terhadap kenaikan harga BBM, maka saya mencoba untuk memberitahukan kepada orang-orang mengenai reaksi-reaksi masyarakat tersebut.

B.   Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah agar setiap mahasiswa yang telah membaca makalah ini mempunyai pandangan yang jelas dalam menanggapi suatu masalah.

C.   Metode
Makalah ini saya buat berdasarkan hasil dari menyaksikan berita di TV dan mendengarkan radio serta membaca koran sejak diumumkannya kenaikan harga BBM.

BAB  II
PEMBAHASAN

A.   BBM
             Bahan Bakar Minyak atau BBM adalah salah satu jenis bahan bakar. Adapun jenis BBM yang dikenal di Indonesia, diantaranya adalah :
·        Minyak tanah rumah tangga
·        Minyak tanah industri
·        Pertamax
·        Pertamax plus
·        Premium
·        Solar transportasi
·        Solar industri
·        Minyak diesel
·        Minyak bakar
       Di Indonesia, harga BBM sering mengalami kenaikan disebabkan alasan pemerintah yang ingin mengurangi subsidi. Tujuan dari pengurangan tersebut dikatakan adalah agar dana yang sebelumnya digunakan untuk subsidi dapat dialihkan untuk hal-hal lain seperti pendidikan dan pembangunan infrastruktur.
Di sisi lain, kenaikan tersebut sering memicu terjadinya kenaikan pada harga barang-barang lainnya seperti barang konsumen, Sembako dan bisa juga tarif listrik sehingga selalu ditentang masyarakat.
             Bahan bakar minyak (BBM) sering menghilang dari peredaran. Kemudian timbul saling tuding antara pemerintah dan penjual BBM tentang penyebab hilangnya BBM ini. Penjual BBM mengatakan bahwa jatah BBM dikurangi, sementara pemerintah mengatakan justru ditambah. Sering dengar kekacauan ini ada orang-orang yang memanfaatkan situasi dengan menimbun BBM, sehngga ketika harga dinaikkan maka dia akan memperoleh keuntungan (sesaat). Mereka ini tidak mengerti bahwa perbuatan tersebut membuat rakyat (yang termasuk mereka sendiri) susah, hanya untuk keuntungan sesaat saja (toh mereka tidak akan dapat berbuat hal tersebut terus menerus.

B.   BBM Naik
Menteri Koordinator Perekonomian Aburizal Bakrie mengatakan, kenaikan BBM diharapkan diterapkan Maret ini.  “Kalau tanggalnya belum diberitahu,” ujarnya kepada wartawan usai pembukaan Indonesia Capital Market Seminar dan Expo 2005 di Jakarta Convention Center, Jum’at (25/2).
C.   Jarpuk Surakarta Keluhkan Kenaikan BBM
             Kalangan perempuan pelaku usaha kecil yang tergabung dalam Jaringan Perempuan Usaha Kecil (Jarpuk) se-eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah mendesak pemerintah membatalkan keputusan kenaikan harga BBM. Mereka tidak yakin dana kompensasi BBM akan sampai ke tangan mereka.
             Juru bicara Jarpuk se-eks Karesidenan Surakarta, Esti Kriswandani menyatakan, BBM baru dinaikkan beberapa hari saja dampaknya sudah sangat dirasakan oleh mereka yang banyak berkecimpung dalam bisnis kecil-kecilan. “Banyak anggota kami yang mengeluh karena biaya produksi langsung mengalami lonjakan sangat tinggi, terutama untuk bahan baku dan jasa transportasi,” kata Esti.
             Jarpuk se-eks Karesidenan Surakarta yang beranggotakan sekitar 1.200 perempuan pelaku usaha kecil yang tersebar di tujuh Kabupaten yakni Solo, Sukoharjo, Sragen, Wonogiri, Klaten, Boyolali dan Karanganyar kebanyakan adalah usaha industri rumah tangga mulai konveksi, pembuatan tahu kedelai, makanan ringan, mebel, tempe kedelai, hingga catering.
             Mereka mengaku semakin kesulitan memperoleh keuntungan dari usaha yang mereka kelola karena biaya produksi tidak sebanding dengan hasil penjualan. “BBM naik berdampak pada kenaikan sembilan bahan pokok, yang mengakibatkan biaya produksi kami meningkat karena bahan bakunya mahal. Belum lagi jasa transportasi naiknya sampai 60 persen” ujar Sri Supriyani, anggota Jarpuk asal Kabupaten yang berbisnis telor asin dan lauk pauk ini.
             Supriyani mencontohkan, setiap kali menyetorkan telor asin dan lauk pauk ke Yogyakarta sebelum BBM naik ia hanya mengeluarkan ongkos Rp.9.000,- untuk sekali jalan. Tapi setelah kenaikan BBM naik terpaksa ia merogoh kocek Rp. 13.000,- “Belum lagi untuk kenaikan biaya bahan bakunya. Sementara produk kami harganya tetap karena kalau dinaikkan omsetnya langsung turun,” katanya.
             Keluhan senada datang juga dari Tri Rahayu, anggota Jarpuk Kabupaten Sukoharjo. Perempuan yang berbisnis makanan ringan seperti marning, tempe kripik ini mengeluh karena selama tiga hari pembeli sudah menurun drastis. Ia juga kebingungan karena dihadapkan pada pilihan yang sulit, antara menaikkan harga produknya atau tetap dengan harga lama. “Jika harga tidak dinaikkan jelas rugi atau impas karena tidak memperoleh keuntungan, tapi kalau produk kami dinaikkan pembeli turun drastis. Jadi gara-gara BBM ini naik kami jadi serba bingung dan dirugikan,” ujarnya.
             Karena jumlah jarpuk se-eks Karesidenan Surakarta mendesak pemerintah mencabut kembali keputusan menaikkan harga BBM karena yang paling menderita adalah rakyat miskin, khususnya ibu-ibu rumah tangga dari keluarga miskin. “Jika tidak dicabut usaha kami akan makin terpuruk, dan kenaikan BBM itu dampaknya juga pada kebutuhan rumah tangga kami,” kata Esti.
             Jarpuk Surakarta juga tidak yakin dana kompensasi BBM akan sampai kepada kalangan usaha kecil seperti yang dijanjikan pemerintah. “Angka-angka dana kompensasi itu hanya janji-janji saja, kami tidak percaya dana kompensasi itu sampai kepada kalangan usaha kecil,” kata Sugiarti, anggota Jarpuk asal Sragen.
             Jarpuk sudah mengajukan dana kompensasi BBM untuk usaha kecil. Dua tahun terakhir ini mereka pernah mengajukan ke Departemen terkait seperti Departemen Koperasi, namun tidak pernah mencicipi dana kompensasi tersebut.
             “Kami sudah pernah mengajukan ke Departemen Koperasi di wilayah masing-masing tapi tidak ada hasilnya. Kami sudah lelah mengajukan. Buktinya selama dua tahun ini tidak pernah memperoleh dan tidak ada penjelasan dana itu kemana,” ujar Sugiarti.
             Menurut mereka dana kompensasi yang dijanjikan pemerintah untuk kalangan UKM itu hanya dijadikan pembenaran untuk menaikkan harga BBM karena buktinya seluruh anggota Jarpuk di eks-Karesidenan tidak ada yang pernah memperolehnya selama ini.

BAB  III
PENUTUP

A.   Simpulan
             Pada tanggal 1 Oktober 2005, kebijakan pemerintah tentang kenaikan harga BBM telah ditetapkan. Kebijakan itu juga mendatangkan penolakan dari berbagai pihak, baik di masyarakat maupun tokoh-tokoh politik. Namun, tetap saja kenaikan harga BBM tidak bisa dicegah. Kenaikan tersebut membuat masyarakat semakin sulit dan tercekik. Pasalnya kenaikan BBM tersebut mengakibatkan sejumlah kebutuhan lainnya meningkat pula. Harga BBM sering mengalami kenaikan disebabkan alasan pemerintah yang ingin mengurangi subsidi. Tujuan dari pengurangan tersebut dikatakan adalah agar dana yang sebelumnya digunakan untk subsidi dapat dialihkan untuk hal-hal lain seperti pendidikan dan permbangunan infrastruktur. Di sisi lain, kenaikan tersebut sering memicu terjadinya kenaikan pada harga barang-barang lainnya seperti barang konsumen, sembako dan bisa juga tarif listrik sehingga selalu ditentang masyarakat.


B.   Saran
             Kenaikan BBM memang sudah terjadi. Akan tetapi, ada baiknya kalau pemerintah menaikkan harga disesuaikan dengan keadaan rakyatnya. Dan pemerintah perlu memperhatikan rakyat miskin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar